Senin, 15 November 2010

Kontribusi Friedrich Engels dalam Peletakan Dasar-Dasar Marxisme

Sponsor, Editor, Pemikir serta Aktivis Sosialis yang Orisinil:
Kontribusi Friedrich Engels dalam Peletakan Dasar-Dasar Marxisme
Oleh George J. Aditjondro
SIAPA Friedrich Engels sebenarnya? Mengapa dia mau membantu menunjang kehidupan Marx di London, selama riset untuk penulisan buku Das Kapital? Apa motivasi dia untuk membantu riset seorang pemikir dan aktivis anti-kapitalis terbesar di masa hidupnya? Lahir tanggal 28 November 1820 di Barmen, sebuah kota kecil di Lembah Wupper (Wuppertal), Engels adalah anak tertua dari seorang industrialis, pemilik kilang (tekstil? Kertas?) Ermen & Engels, yang punya pabrik di Barmen (Jerman) dan Manchester (Inggris). Wuppertal terkenal sebagai basis kaum Pietis, yang melahirkan organisasi penginjil Jerman yang bekerja menyebarkan Injil sampai di lembah-lembah Pegunungan Tengah di Tanah Papua. Pada saat yang sama, kemiskinan kaum buruh di Wuppertal menyentuh nurani Engels sejak muda. Tahun 1839, waktu baru berusia 19 tahun, Engels menerbitkan tulisan-tulisannya tentang kemiskinan di Wuppertal dalam Surat-surat dari Wuppertal,  secara bersambung dalam koran Telegraph fuer Deutschland di bawah nama samaran “X” atau “F. Oswald”. Namun keluarganya lama-lama tahu, siapa sesungguhnya penulis laporan-laporan kemiskinan itu.
“Kemiskinan yang luarbiasa terdapat di lapisan kelas bawah di Wuppertal”, tulis Engels, “di mana dari 2500 anak-anak usia sekolah di Elbertfeld saja, 1200 anak tidak bisa menikmati bangku sekolah, dan tumbuh menjadi dewasa sebagai buruh pabrik, supaya para industrialis tidak perlu membayar buruh dewasa, dan dapat membayar buruh anak-anak dengan upah separuh dari buruh dewasa”. Itu membuat dia menjadi sangat sinis terhadap para Pietis pemilik pabrik-pabrik di Wuppertal, yang berdalih bahwa buruh anak-anak itu dibayar serendah mungkin, supaya tidak menghabiskan uang mereka untuk minum-minum (Dennehy 1996: 101-2). Ini mungkin mendorong Engels menjadi atheis keras (Carver 1996: 13).
Untuk melawan ke”kiri”an putra sulungnya, yang diharapkan dapat mengambil alih kendali perusahaannya, tahun 1842 ayah Engels mengirimnya ke Manchester, Inggris, untuk magang di cabang perusahaan Ermen & Engels di sana. Namun alih-alih berhasil ‘menjinakkan’ sang pemuda, selama dua tahun di Inggris Engels justru berusaha meneliti penderitaan kaum pekerja, yang terutama di pabrik-pabrik tekstil di Manchester dan kota-kota sekelilingnya. Selain memang sudah berjiwa ‘kiri’, introduksi Engels ke kehidupan kelas pekerja di sana terfasilitasi oleh hubungannya dengan Mary (“Lizzie”) Burns, buruh perempuan keturunan Irlandia yang bekerja di perusahaan ayahnya, setibanya di Manchester. Bertahun-tahun lamanya Engels hidup bersama Mary Burns, tanpa menikah. Ia baru menikahi Mary Burns, menjelang kematian perempuan itu di ranjangnya pada tahun 1878 (Tucker 1978: xvii; Dennehy 1996: 106; Newman 2006: 33).
Sepulang ke Barmen tahun 1844, Engels mulai menulis hasil pengamatannya di Inggris, yang kemudian menjadi karya non-fiksi pertama yang menggambarkan proses terbentuknya kelas proletar di Inggris. Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman tahun 1845, baru tahun 1892,  lama sesudah Marx meninggal, buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris, dan berulangkali dicetak ulang di Britania Raya, Australia, dan AS (1969). Buku tentang sejarah terbentuknya kelas proletar di Inggris itu merupakan satu dari dua karya klasik Engels, yang ditulisnya sendiri. Karya klasiknya yang lain, yang ditulis setahun setelah Marx meninggal, adalah The Origin of the Family, Private Property and the State, in Light of the Researches of Lewis Henry Morgan, yang ditulis tahun 1884 (juga diterbitkan dalam Tucker 1978: 734-59).
Karya Engels yang menyoroti lahirnya patriarki seiring dengan munculnya kapitalisme, banyak menimba informasi dari karya antropolog  AS, Lewis H. Morgan (1818-81), Ancient Society or Researches in the Lines of Human Progress from Savagery, through Barbarism to Civilization (London, 1877), yang menggambarkan perkembangan masyarakat dari masyarakat tribal, khususnya persekutuan (konfederasi) Iroquois, ke masyarakat kapitalis masa kini, yang ditandai dengan pergeseran masyarakat dari sistem matrilinier ke patrilinier. Dalam konfederasi ini, yang aslinya bernama “Hau-De-No-Sau-Nee” (= Orang-orang dari Rumah Panjang) dan meliputi bangsa-bangsa Mohawk, Seneca, Cayuga, Oneida, Onondoga dan Tuskarora, berlaku kesetaraan gender dalam pimpinan marga, bangsa, maupun konfederasi. Wilayah konfederasi ini meliputi perbatasan AS dan Kanada sekarang. Dibantu oleh penyusunan kembali data Morgan oleh Marx, berjudul Ethnological Notebooks, Engels menulis The Origin  sebagai ‘jawaban teoretis’ terhadap kebangkitan feminisme dalam gerakan sosialis di Jerman, yang terpicu oleh buku August Bebel, seorang sosialis Jerman, berjudul Die Frau in der Vergangenheit, Gegenwart, und Zukunft (1879). Buku Engels kemudian mengilhami menantu Karl Marx, Paul Lafarge (1842-1911) untuk menulis buku The Evolution of Property from Savagery to Civilization (1890), yang juga sangat menghargai komunisme purba. Makanya, buku Engels ini, yang mencita-citakan masyarakat komunis yang bebas dari patriarki, menjadi pegangan bagi para feminis Marxis (Marx 1981: 278; Akwesasne Notes 1978; Johansen 1982; Geoghegan 1987: 58-62; Vogel 1996; Putnam-Tong 1998: 150).
Kolaborasi Engels dengan Marx
Perjalanan pergi dan pulang ke/dari Inggris mengabadikan pertemuan, persahabatan, dan kolaborasi antara Engels dan Marx selama puluhan tahun. Engels pertama kali berkenalan dengan Marx di kantor redaksi Rheinische Zeitung  di Koln, di mana Marx menjadi pemimpin redaksi. Engels waktu itu sedang dalam perjalanan menuju ke Inggris. Sewaktu berada di Inggris, Engels mengirimkan tulisan-tulisannya ke Marx, yang dimuat di Rheinische Zeitung. Sesudah Marx meletakkan jabatan di Rheinische Zeitung  dan bersama Arnold Ruge menerbitkan Deutsch-Franzosische Jahrbuecher di Paris, Engels mengirimkan tulisannya, “Outlines of a Critique of Political Economy”, kepada Marx, yang dimuat di Jahrbeucher  (Tucker 1978: xv-xvi).
Sepulang dari Manchester, sekitar tanggal 28 Agustus 1844, Engels menemui Marx di Paris, dan sejak saat itulah mereka berdua mulai bekerjasama dengan sangat akrab. Tahun 1845, keduanya menulis buku The Holy Family,  tahun 1845-46 mereka bersama-sama menulis buku The German Ideology,  bulan Februari 1848 mereka menerbitkan Communist Manifesto  di London, suatu pamflet bagi gerakan buruh yang mereka mulai bangun, dan antara 1848-49 keduanya bersama-sama mengedit koran Neue Rheinische Zeitung yang tetap diterbitkan di Koln (Tucker 1978: xv-xvi).
Engels jugalah yang mulai mengajak Marx bekerjasama membangun gerakan buruh baru, dimulai dari Communist Correspondence Committees  yang dibentuk di Brussels awal 1846, kemudian melebar ke London, Paris, Koln, dan kota-kota lain. Ini memang mudah bagi Engels, sebab selama masa magangnya di Inggris, ia sudah mulai bekerjasama dengan beberapa gerakan kiri (sosialis), yakni kelompok Chartist dan kelompok Owenite. Baru pada tahun  1864, keduanya ikut mendirikan International Working Men’s Association (IWMA), International pertama (Tucker, op. cit.; Carver 1996).
Komplementaritas keduanya terletak pada fakta, bahwa ide-ide filosofis Marx yang sangat abstrak dapat ‘dibumikan’ dengan observasi Engels yang diangkat dari kondisi konkrit kehidupan kaum proletar dan kaum borjuis yang diamati Engels secara nyata. Engels jugalah yang mengajak Marx melihat kehidupan nyata di Manchester di musim panas 1845 (Tucker 1978: xvii; Carver 1996). Seperti dikemukakan E. Wilson: “Barangkali jasa terbesar Engels bagi Marx di masa itu adalah, menempatkan wajah para proletar Marx yang abstrak dalam suatu rumah dan pabrik yang nyata” [Perhaps the most important service that Engels performed for Marx at this period was to fill the blank face and figure of Marx’s abstract proletarian and to place him in a real house and a real factory] (Dennehy 1996: 99).
Kemampuan Engels menjembatani dunia borjuis dan proletar terbantu oleh kehidupannya bersama Mary Burns. Sementara itu, kemampuan Engels menjembatani dunia filsafat dan kondisi lapangan terbantu oleh kuliah-kuliah filsafat yang diikutinya di Universitas Berlin antara tahun 1841-42, semasa dia mengikuti dinas militer di Angkatan Darat Prusia. Waktu itulah ia mengikuti diskusi-diskusi kaum Hegelian Muda, sumber inspirasi Marx muda setamat kuliah filsafatnya di Universitas Jena. Selama di Berlin, Engels membaca kritik Ludwig Feuerbach terhadap agama Kristen, The Essence of Christianity (1841). Tulisan itu, yang terbit dua bulan sebelum Marx menyerahkan disertasi doctor filsafatnya, juga mempengaruhi Marx sehingga ia menolak idealisme Hegel dan mengadopsi materialisme Feuerbach (McLellan 1972: 283;Tucker 1978: xv; Dennehy 1996: 102).
Kesimpulan
Dengan membaca biografi Engels begini tampaklah bahwa putra kapitalis Jerman itu bukan seorang dermawan yang mendukung riset Marx dengan agenda tersembunyi (agenda pro-kapitalis). Memang, ia menyunting naskah-naskah Marx untuk karya besarnya, Das Kapital, yang tidak terbengkalai setelah Marx meninggal (14 Maret 1883), 12 tahun sebelum Engels (meninggal 5 Agustus 1895). Tapi kemampuan Engels menyunting naskah-naskah itu menjadi jilid 2 dan 3 Das Kapital, disebabkan oleh konvergensi pikiran mereka berdua, yang sudah mereka sadari puluhan tahun sebelumnya.
Kendati demikian, perlu dicatat bahwa Engels punya identitas sendiri, yang ikut mempengaruhi karya mereka. Sebagai seorang industriawan, Engels lebih mahir dalam soal hitung menghitung, sementara Marx lebih melihat dinamika di antara kategori-kategori besar. Sebagai industriawan Engels juga lebih tergila-gila pada iptek, khususnya “science“, sehingga menempelkan predikat “ilmiah” kepada sosialisme Marx, untuk membedakannya dengan aliran-aliran sosialisme sebelumnya. Lalu, berbeda dengan Marx, yang lebih banyak menyoroti penderitaan buruh perempuan dari sudut hiperkes, Engels menyoroti sejarah munculnya patriarki, walaupun belum mengenal konsep tersebut secara eksplisit. 
Kendati demikian, dengan rendah hati Engels selalu mengakui bahwa kemampuan berfikir dia jauh di bawah Marx, dan menyatakan sangat bangga dapat bekerjasama dengan Marx. Namanya pun tidak tercantum dalam pikiran yang mereka kembangkan, berdua. Namun sudah saatnya orang mempelajari buah pikiran Engels sebagai Engels, dan bukan sebagai “kembaran” Marx.
Yogyakarta, 28 September 2006
Referensi
Akwesasne Notes (1978). Basic Call to Consciousness. Mohawk Nation, NY: Akwesasne Notes.
Arthur, Christopher J. (peny.) (1996). Engels Today: A Centenary Appreciation. New York: St. Martin’s Press.
Carver, Terrell (1996). “Engels and Democracy”. Dalam  Arthur, op. cit., hal. 1-28.
Dennehy, Anne (1996). “The Condition of the Working Class in England: 150 Years On.” Dalam Arthur, op. cit., hal. 95-128.
Engels, Frederick (1969). The Condition of the Working Class in England. London: Granada Publishing. Dengan Kata Pengantar dari sejarawan Eric Hobsbawn.
Geoghegan, Vincent (1987). Utopianism and Marxism. London & NY: Methuen.
Johansen, Bruce E. (1982). Forgotten Founders: Benjamin Franklin, the Iroquois and the Rationale for the American RevolutionIpswitch, Mass.: Gambit Inc.
Marx, Karl (1981). Capital. Vol. 3. London: Penguin Books & New Left Review.
McLellan, David (1972). Marx before Marxism. Middlesex, UK: Penguin Books.
Newman, Michael (2006). Sosialisme Abad 21: Jalan Alternatif atas Neoliberalisme. Yogyakarta: Resist Book.
Putnam-Tong, Rosemarie (1998). Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis.  Yogyakarta: Jalasutra.
Tucker, Robert C. (peny.) (1978). The Marx-Engels Reader. Second Edition. New York: W.W. Norton & Company.
Vogel, Lise (1996). “Engels’s Origin: Legacy, Burden and Vision”. dalam  Arthur, op. cit., hal. 129-52. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar