Jumat, 05 November 2010

Marchiavelli : Politik, Kekuasaan dan Negara



a.      Latar Belakang Marchiavelli
            Niccolo Machiavelli merupakan tokoh yang hidup zaman Renaissance. Ia lahir pada tahun 1467 dan dibesarkan di Florences, Italia. Terdapat pandangan yang berbeda tentang kelahiran Machiavelli ini. Machiavelli berasal dari keluarga terkemuka. Ayahnya, Bernaro Machiavelli adalah seorang ahli hukum dan berasal dari keluarga bangsawan. Machiavelli pada usia 12 tahun, belajar ilmu-ilmu kemanusian di bawah asuhan Paulo Ronsiglione. Buku-buku yang berisi ilmu-ilmu kemanusian, ditulis dalam bahasa Latin, tidak terlalu sulit dipahaminya karena Machiavelli telah belajar bahasa Latin sejak 6 tahun.
            Machiavelli kemudian belajar di Universitas Florence. Ia mempelajari kajian-kajian klasik dari Marcello Adriani. Setelah mengajar beberapa tahun Adriani kemudian menjabat sebaai sekertaris satu, suatu jabatan sangat terhormat di Italia pada masa itu. Hubungan baik antara Machiavelli dan ayahnya dengan Adriani telah memungkinkan Machiavelli menduduki jabatan sekretaris di negaranya di kemudian hari (Ahmad Suhelmi, 1999:98).
            Pada usia 25 tahun Machiavelli menyaksikan perjuangan Girolamo Savonarola. Dia adalah seorang politikus moralis yang membela kaum miskin dan melawan orang-orang kaya. Guicciardini menggambarkan sosoknya sebagai orang alim yang memiliki reputasi dan otoritas cemerlang serta menguasai berbagai disiplin ilmu khususnya filsafat. Tidak mengherankan bila savinarole demikian kharismatis dihadapan pengikut-pengikutnya. Machiavelli juga terpakau dengan Fanatisisme dan ketegaran sikap politi Savonarala meghadapi penguasa tiran Italia. Tetapi sayang perjuangan Savonarala mengalami kegagalan. Machiavelli menyaksikan kegagalan perjuangan Savonarala. Kegagalan perjuangan Savonarala memurnikan moralitas karena tidak memiliki kekuatan politik dan kekuatan militer. Peristiwa itu mempengaruhi Machiavelli dan menyadarkannya bahwa mereka yang bersenjata akan dapat menaklukan mereka yang tidak bersenjata.


b.      Pemikirannya
1.      Kekuasaan menurut marchiavelli
a.       Kekuasaan adalah tujuan itu sendiri.
b.      Segala kebajikan, agama, moralitas justru harus dijadikan alat untuk memperoleh dan memperbesar kekuasaan.
c.       kekuasaan haruslah diperoleh, digunakan, dan dipertahankan semata-mata demi kekuasaan itu sendiri.
d.      Kekuasaan adalah raison d’etre negara (state). Negara juga merupakan simbolisasi tertinggi kekuasaan politik yang sifatnya mencakup semua (all embracing) dan mutlak.
         Dari pandangan-pandangan Machiavelli di atas beberapa sarjana berpendapat bahwa Machiavelli memiliki obsesi terhadap negara kekuasaan (maachstaat) dimana yang kedaulatan tertinggi terletak pada kekuasaan penguasa dan bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum.


2.      Negara Menurut Marchiavelli.
a.       Pemimpin/penguasa
            Dalam kaitannya dengan kekuasaan seorang penguasa, Machiavelli membahas perebutan kekuasaan (kerajaan). Bila seorang penguasa berhasil merebut suatu kerajaan maka ada cara memerintah dan mempertahankn negara yang baru saja direbut itu.
a. Memusnahkannya sama sekali dengan membumihanguskan negara dan membunuh seluruh keluarga penguasa lama. Tidak boleh ada yang tersisa dari keluarga penguasa lama sebab hal itu akan menimbulkan benih-benih ancaman terhadap penguasa baru suatu saat kelak.
b. Dengan melakukan kolobisasi, mendirikan pemukiman-pemukiman baru dan menempatkan sejumlah besar pasukan infantri di wilayah koloni serta menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga terdekat. Cara kolonisasi pernah dilakukan bangsa Romawi.
      Dari kedua cara itu menurut Machiavelli cara pertama adalah cara yang paling efektif meski bertentangan dengan aturan moralitas.
Dalam The Prince, Penguasa adalah :
1.      mereka yang menjadi penguasa lewat cara-cara keji, kejam, dan jahat tidaklah dapat disebut memperoleh kekuasaan berdasarkan kebajikan (virtue) dan nasib baik (fortune).
2.      penguasa itu tidak akan dihormati dan dipuja sebagai pahlawan. Apalagi setelah berkuasa ia menjadikan kekerasan, kekejaman dan perbuatan keji lainnya sebagai bagian dari kehidupan politik sehari-hari. Machiavelli menyimpulkan bahwa cara-cara itu hanya akan menjadikan sang penguasa berkuasa tetapi tidak menjadikannya terhormat, pahlawan atau orang besar.
3.      penguasa yang baik harus berusaha mengejar kekayaan dan kejayaan karena keduanya merupakan nasib mujur yang dimiliki seorang penguasa
4.      seorang penguasa boleh melakukan kekejaman dan menggunakan “cara binatang” hendaknya dilakukan tidak terlalu sering. Setelah melakukan tindakan itu, ia harus bisa mencari simpati dan dukungan rakyatnya dan selalu berjuang demi kebahagiaan mereka. Dia juga harus berusaha agar selalu membuat rakyat tergantung kepadanya. Kearifan dan kasih sayang terhadap rakyat, kata Machiavelli , akan bisa meredam kemungkinan timbulnya pembangkangan. Penguasa yang dicintai rakyatnya tidak perlu takut terhadap pembangkangan sosial. Inilah menurut Machiavelli usaha yang paling penting yang harus dilakukan seorang penguasa.
5.      Penguasa agar selalu belajar dari pengalaman penguasa atau kaisar-kaisar lain di masa lalu. Misalnya mempelajari bagaimana cara bertempur yang baik, mempertahankan diri dari serangan musuh, melakukan serangan balasan yang efektif dan cara-cara bagaimana mereka memenangkan suatu peperangan dan sebagainya.
6.      penguasa perlu mempelajari sifat-sifat terpuji dan yang tak terpuji. Dia harus berani melakukan tindakan tidak terpuji – kejam, bengis, khianat, kikir – asalkan itu baik bagi negara dan kekuasaannya. Untuk mencapai tujuan, cara apapun bisa digunakan (the ends justify the means). Oleh karena itu penguasa tidak perlu takut untuk tidak dicintai,asalkan ia tidak dibenci rakyat.

b.      Bentuk Negara
1.      Kerajaan
2.      Republik
c.       Militer
                        menurut machiavelli, hanya nabi-nabi bersenjata (the armed prophets)          dan memiliki kekuatan militer yang berhasil memperjuangkan misi kenabiannya. Sedangkan para nabi yang tidak bersenjata, betapa baik dan sakralnya misi yang mereka bawa, akan mengalami kekalahan karena tidak memiliki kekuatan militer . Atas dasar asumsi itu machiavelli menilai keberadaan angkatan perang yang kuat sebagai suatu keharusan yang dimilki negara. Machiavelli menyadari benar akan pentingnya angkatan bersenjata bagi seorang penguasa negara. Angkatan bersenjata, menurut Machiavelli merupakan basis penting seorang penguasa negara. Ia merupakan manifestasi nyata kekuasaan negara. Penguasa yang tidak memiliki tentara sendiri akan mudah goyah dan diruntuhkan kekuasaannya. Menurut Machiavelli sungguh berbahaya menggunakan tentara sewaan. Kalau seorang penguasa mengandalkan tentara sewaan, ketenangan dan keamanan negara tidak bisa dijamin. Negara mudah goyah. Machiavelli menyebutkan alasan-alasan mengapa demikian. Tentara sewaan katanya tidak bisa disatukan, haus akan kekuasaan, tidak berdisiplin, tidak setia kepada penguasa (yang menyewa mereka), tidak memiliki rasa takut kepada Tuhan, tidak memiliki tanggung jawab, tidak setia terhadap sesama rekan mereka, dan menghindarkan diri dari peperangan. Gagasan Machiavelli ini, menurut hemat saya merupakan refleksi pengalaman pribadinya menyaksikan ‘pengkhianatan’ pemimpin tentara bayaran Vitelli terhadap negaranya.
                        Begitu pentingnya militer bagi suatu negara dan usaha mempertahankan kekuasaan, maka penguasa harus menjadikan keahlian kemiliteran sebagai barang miliknya yang paling berharga. Ia juga harus senantiasa belajar ilmu perang dan bertempur. Oleh karena itu seorang penguasa tidak boleh lengah untuk selalu memikirkan dan melatih dirinya dalam latihan perang dan kemiliteran (exercise of war). Intensitasnya melakukan latihan perang di masa damai harus lebih besar daripada di masa perang. Saat-saat damai hendaknya dijadikan persiapan untuk menghadapi perang. Tidak ada perdamaian tanpa persiapan matang untuk perang.
                        Dalam latihan perang, penguasa dan tentaranya harus selalu disiplin dan terbiasa hidup dengan cara keras. Dengan demikian tubuhnya akan terbiasa dengan penderitaan. Untuk memenangkan peperengan mereka harus mengetahui ilmu tntang alam, tanah, dan sungai-sungai. Maka dalam latihan perang tercakup pelajaran mengenai strategi bagaimana bisa tetap hidup (how to survive), mendaki gunung dan lembah, menyusuri sungai-sungai dan rawa-rawa. Semua pengetahuan ini menurut Machiavelli penting setidaknya untuk dua hal.
                        1.Tentara dan penguasa mengetahui persis keadaan negaranya.
                        2. Mengerti cara bagaimana mempertahankannya dari serangan musuh.
                                    Dengan memiliki pengetahuan dan pengalaman menjelajahi bukit, gunung dan menyusuri sungai maupun rawa-rawa pada suatu bagian tertentu di negaranya, maka ia akan memahami kawasan-kawasan lain yang memiliki karakteristik serupa dengan kawasan yang dipelajari dan ditelusurinya itu. Dengan mengetahui satu wilayah, ia akan mudah memahami wilayah-wilayah di negara lainnya. Dengan memiliki pengetahuan itu juga tentara dan penguasa akan mudah menemukan musuh-musuhnya dan merebut markas-markas tentara yang dikuasai musuh-musuh mereka.

 Kesimpulan
A.     Machiavelli karena menurutnya manusia memiliki dua sifat yang bertentangan, yaitu sifat manusia – tulus, penyayang, baik, pemurah, tetapi juga memiliki sifat-sifat binatang atau sifat tak terpuji, jahat, kikir, bengis, dan kejam. Kedua sifat manusia yang paradoksal ini membawa implikasi terhadap cara menangani persoalan politik. Cara penanganan persoalan politik dengan ‘cara manusia’, misalnya lewat prosedur hukum dan pengadilan, tidak efektif tanpa disertai ‘cra binatang’. Tetapi bisa terjadi sebaliknya, cara binatang juga tidak efektif tanpa menggunakan cara manusia. Kedua cara itu ibarat two sides of the same coin (dua sisi pada satu koin yang sama).
B.     Machiavelli berpendapat bahwa seorang penguasa ideal adalah Archilles yang belajar jadi penguasa dari Chiron. Chiron adalah mahluk berkepala manusia berbadan dan berkaki kuda dalam mitologi Yunani kuno. Artinya, seorang penguasa harus memiliki watak manusia dan watak kebinatangan pada saat yang sama. Machiavelli menulis bahwa dengan belajar dari mahluk seperti Chiron, penguasa diharapkan bisa mengetahui bagaimana menggunakan sifat manusia dan sifat binatang. Menggunakan salah satu cara berkuasa tanpa cara lainnya tidak akan berhasil.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar