Selasa, 15 November 2011

Konsep Kampanye Politik



Kampanye politik penuh dengan retorika, seperti aktor politik tertentu menantang kualifikasi pesaing politiknya, bahkan dukungan editorial surat kabar, majalah, televisi dan radio juga mengikuti garis demonstratif, memperkuat sifatsifat positif kandidat yang didukung sekaligus memperteguh sifat-sifat negative lawan politiknya. Menurut Aristoteles yang dikutip Nimmo (1989) dalam Sirajuddin (2005 :14), bahwa dalam pengklasifikasian jenis-jenis kampanye politik, dapat diidentifikasi melalui tiga cara pokok, yaitu deliberatif, forensik, dan demonstratif. Kampanye politik deliberatif dirancang untuk mempengaruhi orang-orang dalam masalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dengan menggambarkan sejumlah keuntungan dan kerugian relatif dari cara-cara alternatif dalam melakukan segala sesuatu. Fokusnya adalah sesuatu yang akan terjadi di masa depan jika ditentukan kebijakan tertentu. Jadi, ia menciptakan dan memodifikasi pengharapan atas hal ihwal yang akan datang.
Sementara kampanye politik forensik adalah persoalan yuridis, kampanye ini berfokus pada apa yang terjadi di masa lalu untuk menunjukkan apakah bersalah atau tidak, pertanggungjawaban, atau hukuman dan ganjaran. Pada prinsipnya kampanye berusaha mengungkap berbagai pelanggaran yang sedang atau telah dilakukan para pesaing politiknya sehingga memungkinkan khalayak berubah sikap terhadap pilihan politiknya saat pesta pemilihan umum. Terakhir adalah kampanye demonstratif yang dilakukan melalui epideiktik, artinya wacana yang memuji dan menjatuhkan lawan yang menjadi pesaing politik. Tujuannya adalah untuk memperkuat sifat baik atau brand image partai politik beserta aktor-aktornya sekaligus mempengaruhi citra buruk partai politik pesaing beserta aktor-aktor politiknya.

1 Strategi Kampanye Politik
Ruslan (2005:37) menyatakan strategi pada hakikatnya adalah suatu perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya. Tujuan utamanya menurut R.Wayne Pace, Brent D. Peterson dan M. Dallas Burnett (dalam Ruslan 2005:38) adalah ;
1.      To secure understanding , untuk memastikan terjadi suatu pengertian dalam Berkomunikasi
2.      To establish acceptance, bagaimana cara penerimaan itu dibina dengan baik.
3.      To motive action, penggiatan motivasinya.
4.      The goals which the communicator sought to achieve, bagaimana mencapai tujuan yang hendak di capai boleh pihak komunikator dari proses komunikasi tersebut.
Sementara pengertian kampanye yang dikemukakan oleh Kotler dan Roberto (1989) dalam Cangara (2009 : 284) adalah “campaign is an organized effort conducted by one group (the change agent) which intends to persuade others (the target adopters), to accept, modify, or abandon certain ideas, attitudes, practices and behavior.” Kampanye ialah sebuah upaya yang dikelola oleh satu kelompok, (agen perubahan) yang ditujukan untuk memersuasi target sasaran agar bisa menerima, memodifikasi atau membuang ide, sikap dan perilaku tersebut.

2 Kampanye pemilu terdiri dari tiga unsur yaitu:
2.1 Komunikator atau juru kampanye
Dalam kampanye yang berfungsi sebagai komunikator adalah juru kampanye/kandidat. Sebagai pelaku utama kampanye juru kampanye/ kandidat memegang peranan yang sangat penting karena dia yang mengirim pesan-pesan kampanye pada masyarakat, dan mangendalikan jalannya kampanye. Oleh karena itu seorang juru kampanye harus terampil berkomunikasi dan kaya ide serta penuh daya kreativitas.
Agar dapat menarik simpati masyarakat juru kampanye/ kandidat harus memiliki keterpercayaan (Credibilitas), daya tarik (Attractive) dan kekuatan (Power).
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki sumber sehingga diterima atau diikuti oleh khalayak (penerima). Juru kampanye harus mempunyai kredibilitas yang tinggi. Kredibilitas juru kampanye dapat dilihat dari Kompetensi (Competence) yaitu penguasaannya terhadap masalah yang dibahasnya, dari sikapnya yang jujur dan bersahabat, dari kemampuannya menyampaikan hal-hal yang menarik serta mampu beradaptasi dengan sistem sosial dan budaya (social and cultural system) dimana khalayaknya berada.
Juru kampanye juga harus memiliki Daya Tarik (attractive) yaitu daya tarik dalam hal kesamaan (similarity), dikenal baik (Familiarity), disukai (liking) dan fisiknya (Physic). Kesamaan maksudnya bahwa orang bisa tertarik pada juru kampanye karena adanya kesamaan demografi seperti bahasa, agama, suku, daerah asal, partai atau ideologi. Dikenal maksudnya juru kampanye yang dikenal baik lebih cepat diterima oleh khalayak dari pada mereka yang tidak dikenal. Disukai maksudnya juru kampanye disenangi, atau diidolakan oleh masyarakat, akan mudah mempengaruhi orang lain. Mengenai penampilan fisik, seorang juru kampanye sebaiknya memiliki fisik yang sempurna, sebab fisik yang cacat bisa menimbulkan ejekan sehingga menganggu jalannya kampanye. Mill dan Anderson (1965) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa komunikator yang memiliki fisik yang menarik, lebih mudah mengubah pendapat dan sikap seseorang.
Untuk efektifnya kampanye seorang juru kampanye juga sebaiknya memiliki kekuatan (power) atau kekuasaan. Khalayak dengan mudah menerima suatu pendapat kalau hal itu disampaikan oleh orang yang memiliki kekuasaan. Misalnya pimpinan suatu organisasi akan lebih mudah mempengaruhi anggotanya.

2.2 Isu Kampanye
Isu kampanye menyangkut tema dan isi kampanye yang disampaikan oleh kontestan pemilu. Isu kampanye ini mestinya merupakan refleksi langsung maupun tidak langsung dari program-program perjuangan masing-masing kontestan. Dengan mencermati isu kampanye diharapkan dapat ditengarai persamaan maupun perbedaan bukan hanya program-program perjuangan masing-masing kontestan tetapi juga cara dan atau jalan yang hendak ditempuh oleh kontestan dalam merealisasikan programnya.
Isu adalah berbagai permasalahan yang ‘dijual’ pasangan kandidat dalam aktivitasnya kepada massa. Isu yang memenuhi kemungkinan menjadi pendorong suatu perilaku adalah pesan yang diperhatikan massa, pesan tersebut dibutuhkan, membangkitkan dan mengenai kebutuhan masa, menawarkan keuntungan dan menjelaskan kerugian dan selanjutnya mendorong massa melakukan tindakan.
Sebab suatu pesan dapat diterima oleh khalayak antara lain :
-        Adanya kepentingan ganda yang dapat diperoleh kedua belah pihak, yakni antara sumber dan penerima (overlapping of interest).
-        Pesan itu memberikan pemecahan pada masalah yang dihadapi oleh khalayak (problem solving).
-        Khalayak percaya komunikator yang menyampaikan pesan itu memiliki kompetensi dan kredibilitas yang tinggi.
-        Khalayak percaya bahwa pesan itu dapat membuat perubahan sebagaimana yang diinginkan oleh khalayak
Faktor yang berpengaruh pada keberhasilan atau efektifnya komunikasi adalah faktor keseringan atau frekuensi pesan-pesan tersebut disampaikan pada komunikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Ithel De Solapool yang menyatakan bahwa “Informasi apabila diulang-ulang berkali-kali dalam waktu yang lama, dapat menciptakan suatu pengertian bagi khalayak, lebih-lebih bila informasi itu tidak bertentangan, dan apa saja yang disampaikankepada massa sebagai pengetahuan baru akan mendorong kearah kemajuan”. Dari pemikiran Ithel, dapat dipahami bahwa semakin tinggi intensitas penyampaian pesan lewat kampanye, maka tingkat pengertian atau pengetahuan komunikan/masyarakat akan bertambah

2.3 Media Kampanye
Menurut Santoso Sastropoetra Media/sarana adalah alat yang dipergunakan oleh komunikator untuk menyampaikan/ meneruskan/ menyebarkan pesannya agar dapat sampai kepada komunikan/ penerima pesan. Menurut A.W. Widjaya media komunikasi terdiri dari: 1) media audio (radio), 2) Media visual (buku, pamflet, surat kabar, majalah, dan lain-lain.), 3) Media audio visual (Televisi). Sementara Hafied Cangara membagi media menjadi 4 macam yaitu : 1) Media antar pribadi seperti surat dan telepon, 2) Media kelompok seperti seminar dan rapat, 3) Media publik seperti rapat akbar/umum dan 4) Media massa seperti Radio, surat kabar dan televisi. Media lainnya seperti poster, selebaran, pamflet, brosur, stiker dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar