Sabtu, 19 Oktober 2013

“Teori-Teori Kelas : Elite Penguasa dan Massa”





Dalam buku teori perbandingan politik karya Ronald H.Chilcote menjelaskan  teori-teori kelas mulai dari Elit pluralis ke kelas penguasa dan massa. Berbicara tentang terminologi seperti elit pluralis, elit kekuatan, struktur kekuatan, sirkulasi elit, elit penguasa, kelas pemerintah, dan kelas penguasa berlaku luas dalam literatur kelas sosial, artinya tidak terlepas dari Marx, menggunakan kelas untuk menggambarkan dan menganalisis hubungan-hubungan produksi yang diasosiasikan dengan berbagai zaman sejarah dan model-model produksi. Marx mengelompokan kelas atas tiga kelas besar yang terdiri dari para pemilik tanah, para kapitalis industri dan para pekerja. Di satu sisi terdapat kaum borjuis yang terdiri dari para kapitalis modern dan pemilik cara-cara produksi, dan di sisi lain terdapat para pekerja upahan yang menjual tenaga mereka demi bertahan hidup dan tidak memiliki cara-cara produksi. Chilcote, menitik beratkan bahwa ada lima aliran kelompok ahli yang sekarang ini sedang berupaya merumuskan sebuah teori kelas, (Pluralisme,  Instrumentalisme, Strukturalisme, Kritikalisme dan Statisme dan perjuangan kelas).[1]
Teori elit diarahkan untuk menentang gagasan sosialisme marxis tentang kelas penguasa yang kekuatan politiknya didasarkan atas kepemilikan alat-alat produksi. Menurut Pareto, yang disebut dengan kelompok elit adalah sekelompok kecil individu yang memiliki kualitas-kualitas terbaik, yang dapat menjangkau pusat kekuasaan sosial politik. Elit merupakan orang-orang yang berhasil, yang mampu menduduki jabatan tinggi dalam lapisan masyarakat. Sementara Gaetano Mosca menyebutkan bahwa di setiap masyarakat yang berbentuk apapun senantiasa muncul dua kelas, yaitu kelas yang memerintah dan kelas yang diperintah. Kelas yang memerintah memiliki jumlah yang sedikit, memegang semua fungsi politik, monopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan.
Menurut saya, teori elite yang berkembang saat ini, tetap berpijak pada the rolling class and the rulled class. Hal ini sesuai dengan Mosca, Pareto dan Michels. Namun, ada benarnya, bahwa teori kelas juga harus mengurusi hubungan internal negara dengan kontradiksi-kontradiksi proses akumulasi yang dikatakan James O’Commor. Secara khusus mengamati perjuangan kelas membatasi kemampuan negara untuk merasionalisasi kapitalisme dan struktur-struktur negara berlaku sebagai penghalang tantangan kelas pekerja. Isu-isu analisis kelas yang dibahas diantaranya peran negara dan kelas penguasa, kategori analisis kelas, tingkat-tingkat konseptualisasi kelas, hubungan basis dengan suprastruktur, dan implikasi-implikasi formasi-formasi sosial prakapitalis dan kapitalis. Dengan begitu, elite negara maupun massa, tidak bisa terlepas dari perjuangan kelas. Ada yang dipimpin dan ada yang memimpin, hal ini berlaku mutlak untuk terwujudnya negara. Namun pertanyaannya, apakah bisa elite yang berkuasa menjalankan haknya dengan tidak mengorbankan massa atau yang dipimpin dengan tidak merampas hak-hak hidup yang layak? Sehingga ada kesejahteraan yang diimpikan dalam negara yang sebenarnya.



[1] Ronald H. Chilcote, Teori Perbandingan Politik :Penulusuran Paradigma. Raja Grafindo Persada  : Jakarta. chapter 8 Hlm 471-525

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar