Selasa, 29 Januari 2013

Kaum Muda Korup, Ancaman 2014




Hampir di penghujung tahun 2012, dalam persiapan bagi sebagian kalangan penggiat anti korupsi untuk memperingati Hari Anti Korupsi se dunia 9 Desember kita dikagetkan dengan berita ditetapkannya Andi Malaranggeng sebagai tersangka kasus korupsi Hambalang. Sejak awal sudah banyak yang menduga keterlibatan menteri pemuda dan olah raga kabinet SBY jilid II ini terlibat dalam kasus korupsi Hambalang. Mega proyek Hambalang merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh kementerian yang dipimpinnya. Bukan tanpa efek, satu sisi kepercayaan terhadap partai demokrat menurun. Bagaimana mungkin bintang-bintang iklan “lawan korupsi” kemudian menjadi tersangka kasus politik. tetapi penting dari itu adalah kepercayaan rakyat terhadap kepemimpinan kaum muda, makin mengembangnya pesimisme terhadap kaum muda dan menggempisnya optisme terhadap perjuangan kaum muda di perpolitikan bangsa. Tentunya ini menjadi permasalahan yang menampar kaum muda dalam berpolitik. Apakah mereka berpolitik untuk korup atau benar-benar memperjuangkan kebaikan?


Orientasi Politik Uang
Lalu, apa yang membawa kaum muda berpolitik? Pasca reformasi 1998, kaum muda kehilangan momentum untuk segera mengisi lini-lini kekuasaan. Mereka tidak sigap dalam melanjutkan upaya pembaharuannya, tahun 1999 tidak ada kaum muda yang terlibat dalam pemilu kecuali hanya menjadi pengawas pemilu. Sehingga, sampai saat ini Indonesia masih dipimpin oleh banyak kaum tua warisan orde baru. Kaum muda mulai banyak terlihat sejak pemilu 2004, munculnya kaum muda salah satunya Andi Malaranggeng. Kemudian tahun 2009, pemilu legislatif hampir 70 % diwarnai oleh pendatang baru terutama kaum muda. Ditahun 2010 adalah capaian bagus kaum muda, setidaknya dengan terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai ketua umum partai demokrat. Namun kemudian prestasi-prestasi ini harus tercoreng dengan kasus-kasus korupsi yang sangat memalukan. Apakah kaum muda berpolitik untuk mencari uang? Mengutip apa yang dikatakan Ibnu Khaldun, bahwa tantangan dalam memimpin adalah harta, tahta dan wanita. Dan memang kaum muda membuktikanya, namun tidak baik untuk agenda reformasi kedepannya. Tentunya tidak semua kaum muda korup, hanya beberapa oknum saja akan tetapi setidaknya ikut merusak citra kepemimpinan kaum muda. Analis politik, Yudi Latif, pernah mengingatkan kaum muda untuk memiliki cukup kapital untuk terjun kepartai politik. Supaya mereka tidak menjadi pekerja politik yang mengadi kepada modal sehingga menjadikan mereka korup. Orientasi utama kaum muda berpolitik tentunya untuk mendapatkan kekuasaan baik di legislatif maupun di eksekutif. Namun orientasi kekuasaan inipun tidak berdiri sendiri namun disertai dengan pertama, orientasi kekuasaan sebagai upaya dapat mengambil kebijakan demi kebaikan bersama. kedua, orientasi pragmatis, dimana kekuasaan disalah gunakan bukan untuk mencapai kebaikan malah digunakan untuk kebaikan kelompok dan menguntungkan dirinya, sehingga melahirkan pemimpin korup.

Harapan Untuk Kaum Muda
Dengan munculnya lagi kaum muda yang terjebak dalam kasus-kasus korupsi, ikut mempengaruhi kepercayaana publik terhadap kepemimpinan kaum muda itu sendiri. Oleh karena itu, dipenghujung tahun 2012 ini adalah waktu yang tepat bagi kaum muda untuk merenungkan kembali tujuan mereka berpolitik, apakah akan memperpanjang sejarah korupsi di Indonesia atau akan menjadi pembaharu sebagaimana cita-cita reformasi. Karena masuknya tahun 2013 tentunya merupakan persiapan bagi kaum muda politik dalam pencaturan legislatif dan eksekutif 2014. Negeri ini adalah negeri yang rindu kepemimpinan yang bersih dari korupsi. Negeri ini sudah saatnya dipimpin oleh kaum muda yang bersih sebagai harta karum regenerasi politik yang tertunda. Sehingga kaum muda harus memiliki posisi tawar yang kuat dan mental cendekiawan pro rakyat yang anti korupsi untuk menghindari the end of morality.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar