Selasa, 29 Januari 2013

Refleksi dan Keberadaan Gerakan Mahasiswa Hari Ini

Oleh Febryna Mulya


Memasuki era reformasi, gerakan mahasiswa kembali mencatatkan diri sebagai salah satu aspek dalam kekuatan politik Indonesia. Namun menelisik lebih jauh tentang pergerakan mahasiswa, mereka hadir dan berpluktuasi diserangkaian sejarah bangsa ini. Hal ini dimulai dengan berdirinya Budi utomo pada tahun 1908 yang pada saat itu merupakan tonggak pertama lahirnya kesatuan kepemudaan di Indonesia. Gerakan kepemudaan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya gerakan-gerakan kepemudaan yang kemudian dekat dengan gerakan mahasiswa.
Dalam perkembangan sejarah Indonesia, gerakan mahasiswa memainkan peran pentingnya dalam perubahan-perubahan baik sosial maupun politik di Indonesia. Peran penting ini tidak selalu menegakan demokrasi dan kesejahteraan sosial di Indonesia. Gerakan 1965 misalnya, mahasiswa dan tentara Republik ini berperan dalam penumbangan Soekano dan membantu lahirnya rezim kediktatoran selama 32 tahun. Sehingga secara tidak langsung gerakan mahasiswa pada tahun ini ikut membantu pembantaian kurang lebih 3 juta orang pada masa rejim ini berkuasa.
Terlepas dari sejarah baik dan buruknya gerakan mahasiswa, mereka telah menggambarkan dirinya sebagai unsur paling berpengaruh terhadap perjalanan bangsa ini. Memasuki era reformasi, kita disuguhi dengan peranan-peranan yang gencar dilakukan mahasiswa awalnya. Bagaimana kemudian menumbangkan rezim kediktatoran, dan melahirkan masa rekonstruksi yang setengah-setengah. Pentingnya gerakan mahasiswa saat ini tidak lebih karena peranan mahasiswa yang dianggap sebagai kelompok generasi muda yang belum terkontaminasi dari berbagai kepentingan politik sehingga melahirkan pemikir kritis yang berintelektualitas dan dianggap sebagai representasi dan barometer yang sangat sensitif yang secara setia merefleksikan harapan dan impian masyarakat disetiap gerakannya.
Memasuki era reformasi, gerakan mahasiswa tidak saja berakhir begitu saja, tuntutan demi tuntutan terus di suarakan dengan pimpinan baru Habibie. Memasuki era reformasi inlah dengan jelas kita melihat perpecahan ditubuh mahasiswa Indonesia. Perbedaan sikap dan pandangan mahasiswa atas Sidang Istimewa MPR yang menghasilkan kelanjutan tugas kepresidenan oleh Habibie merupakan awal dimulainya demokrasi itu sendiri. Pro dan kontra terhadap kepemimpinan habibie terus bergemuruh dari setiap sudut mahaasiswa di Indonesia. Sehingga pada tahun 1999 pemilu membawa kepada pemerintahan Gusdur dan Mega.
Tidak ada lagi menjadi musuh bersama, ini kemudian kata yang pantas menjadi gambaran gerakan mahasiswa era reformasi. Pemerintahan gusdur membawa mahasiswa kedalam privatisasi kehidupan kampus. Ini di tandai dengan di BHMNkan 4 kampus yang kita tau melahirkan pergerakan mahasiswa yang komplek dan aktif yakni UGM, UI, ITB dan IPB. Penghentian subsidi pendidikan kepada 4 perguruan tinggi dan mengharuskan mereka mencari dana sendiri membuat isu pendidikan menjadi permasalahan gerakan mahasiswa kemudiannya. Sekelumat kebijaksanaan Gusdur yang dianggap tidak bijaksana menumbangkan masa Gusdur dan menaikan Megawati sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia.
Perpindahan masa ke masa di masa reformasi tentu menerus mengukir peranan mahasiswa, namun peranan ini tidak lagi sebagai peranan sosial yang memajukan kesejahteraan umum melainkan peranan politik yang penuh dengan permainan elit politik pada masa ini. Masa megawatipun melahirkan rejim orde baru kembali yang dibuktikan dengan banyaknya aktifis yang dipenjarakan dan banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan masa itu. Dalam masa kepemimpinan Megawati pelanggaran HAM sering terjadi baik dari cara pemerintah menghadapi GAM dan rekonstruksi otonomi khusus di PAPUA.
Permasalahan yang dihadapi mahasiswa tidak hanya masalah distorsi kepemimpinan, kesejahteraan bangsa dan penghapusan sisa rejim soeharto melainkan juga masalah krisis ekonomi dan privatisasi kampus. Hal ini menjadi awal mulai meredamnya gerakan-gerakan mahasiswa yang besar dan bersifat Nasional. Besarnya biaya pendidikan dan terbunuhnya aktifis-aktifis secara misterius memecah konsentrasi mahasiswa dalam pergerakannya. Pemilu tahun 2004 memenangkan SBY-JK untuk RI I dan II namun pelanggaran HAM yang pernah terjadi baik dari rejim soeharto sampai terakhir kematian aktifis KONTRAS Munir menambah deretan misteri dalam perkembangan pergerakan mahasiswa hari ini.
Hari ini, persoalan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam gerakannya adalah pengembalian karakter mahasiswa yang terpuruk beberapa tahun belakangan. Yang dapat kita lihat, setelah runtuhnya rejim soeharto peran penting mahasiswa didalam bernegara terombang ambing dengan kepentingan-kpentingan politik penguasa. Tidak ada lagi kesatuan dan degradasi nilai moral kemahasiswaan saat ini deras kita rasakan dikampus-kampus. Penurunan Pion-pion dalam setiap pergerakan mengambarkan gentingnya gerilya gerakan mahasiswa hari ini.
Permaslahan ini tentu memiliki penyebab-penyebab yang telah sistematis dan terencana. Bagaimana belakangan pemerintahan merekonstruksi gerakan-gerakan kemahasiswaan. Permasalahan dan isu yang berkembang baik di media maupun di masyarakat. Namun, pluktuasi gerakan mahasiswa dan tidak kuatnya gerakan mahasiswa setidaknya telah menyatakan pada dunia Indonesia setidaknya berdemokrasi walaupun dengan setengah-setengah.
Mahasiswa seakan-akan tidak bergemuruh akan isu-isu sosial yang membelenggu buruh, petani maupun masyarakat umumnya. Mereka terkonsentrasi akan gerakan pemerintahan lokal dan nasional yang baik dan demokrasi. Merapatkan barisan bersama rakyat sebagaimana tahun 1970an atau ketika organisasi Budi Utomo pertama kali didirikan merupakan tantangan terhadap gerakan mahasiswa kedepannya. Bagaimnapun perpecahan gerakan rakyat dan mahasiswa turut mempengaruhi representasi mahasiswa bagi masyarakat. Pertanyaan terhadap moral mahasiswa dari masyarakt ramai dikoarkan ditambah dengan morat maritnya kehidupan mahasiswa yang sering rusuh dan bermutasi menjadi penguasa-penguasa yang setengah manusia. Walaupun demikian, mereka adalah sebuah gerakan yang selalu ada dan akan kembali muncul disaat pentingnya. Dan dari gerakan kegerakan mengajarkan kita bagaimana akan penguasa dan terkuasai. Segala hal mengalir dan tidak ada yang diam (heracleitos)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar