Selasa, 29 Januari 2013

Refleksi Perjuangan Meruntuhkan Rezim Militeristik.


publikasi Bab VI skrip ane...^^"
Diangkatnya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia sejak keluarnya hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968) pada 27 Maret 1968 menjadikan beliau presiden kedua Repulik Indonesia, menggantikan Presiden Soekarno. Masa kepemimpinan Soeharto ini dikenal dengan istilah Orde Baru. Semasa kepemimpinannya, Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan Indonesia melalui program kerjanya. Sebagai Bapak Pembangunan Indonesia adalah penghargaan yang sampai saat ini tidak bisa kita pungkiri. Hal ini terlihat dari laju pertumbuhan perekonomian yang terus tumbuh secara signifikan, terutama setelah tahun 1988, walaupun terjadi krisis harga minyak pada tahun 1982 dan resesi ekonomi dunia tahun 1980-1982.
Kemudian diikuti oleh keberhasilan swasembada pangan pada tahun 1984 dengan memperoleh penghargaan dari FAO, organisasi pangan PBB. Program kesehatan Keluarga Berencananya dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk yang memungkinkan terjadinya ledakan jumlah penduduk, pengganguran, kelaparan dan konflik sosial. Program pembangunan dalam strategi rancangan pembangunan bertahap yang dikenal dengan Repelita. Sistem pertahan keamanan yang menggaungkan Indonesia sebagai “Macan Asia”, dan menjadi militer terpandang di dunia melalui pasukan Garudanya, ABRI.[1]
Namun, krisis ekonomi yang diawali dengan krisis nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sejak pertengahan tahun 1997 sebagai efek bola salju dari krisis moneter Thailand, telah mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi yang kemudian menjalar ke krisis politik. Krisis keuangan Indonesia saat itu berlanjut dengan adanya kebijakan pemerintah yang melikuidasi 16 bank swasta, serta menerima paket dari IMF sebanyak 23 milyar dollar AS, namun kurs rupiah terhadap dollar AS terus merosot.[2] hal ini dikarenakan oleh  displacement, perubahan mendadak dalam faktor ekternal. krisis ekonomi yang semula terjadi di Thailand menyebar dan melemahkan semua ekonomi dinegara Asia lainnya, Malaysia, Korea Utara, dan termasuk Indonesia. sehingga mengakibatkan kepanikan dan mania, inverstor yang panik membeli saham sebanyak-banyak yang berakiabt terhadap kebangkrutan ketika krisis dimulai. namun untuk kondisi Asia hal ini diperparah dengan moral Hazard, meluasnya ketidak jujuran dan ketertutupan dalam dunia usaha seperti yang dialami Indonesia. pembangunan ekonomi yang baik kemudian dicemari oleh politik Korupsi, Kolusi dan Nepostime menjadikan negara yang di pimpin Soeharto mengalami goncangan politik. dimana bangunnya macan tidur yaitu gerakan mahasiswa.[3]
Masa kepemimpinan Soeharto setidaknya ada tiga kali gerakan mahasiswa yang dicatat sejarah, 1966, 1974 dan 1978.[4] Dipukul mundurnya gerakan mahasiswa melalui kebijakan NKK/BKK tahun 1978 menjadikan gerakan mahasiswa di tahun 1998 menjadi gerakan mahasiswa terbesar jika dibandingkan dengan tahun 1966, gerakan mahasiswa tahun 1966 yang disebabkan oleh krisis ekonomi yang bertupang tindih dengan polarisasi ideologis masyarakat (komunis dan anti komunis) sedangkan gerakan 1998 juga disebabkan oleh krisis ekonomi namun bertumpang tindih dengan yang bukan ideologi yakni adanya keraguan atas kompetisi birokrasi pemerintah (korupsi, kolusi dan nepotisme) dan pemerintah yang lebih moderat terhadap oposisi yang disebabkan oleh tekanan organisasi dan komunikasi internasional begitu besar serta pengaruh IMF terhadap formulasi kebijakan ekonomi kita sehingga memicu lebih besarnya gerakan ditahun 1998.[5]
Gerakan Mahasiswa tahun 1998 dengan agenda reformasi merupakan gerakan sosial politik. Banyak aktivis gerakan sosial politik yang sepakat menyatakan bahwa gerakan yang massif akan lahir berdasarkan momentum. Setidaknya bagi kalangan teoritis mereka mengatakan ada tiga pandangan terhadap lahirnya gerakan sosial politik. Pertama, gerakan sosial lahir dikarenakan adanya kesempatan (political opportunity) bagi gerakan itu. Kedua, gerakan sosial muncul akibat meluasnya ketidak puasan atas situasi yang ada, misalnya peruahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kemudian mengakiatkan kesenjangan ekonomi dan krisis identitas, si kaya dan si miskin. Ketiga, gerakan sosial semata-mata masalah kemampuan (leadership capability) dari tokoh penggerak artinya ada tokoh penggerak yang menjadi inspirassi, membuat jaringan, membangun organisasi yang kemudian memotivasi kelompok masyarakat untuk teribat dan bergerak.[6]
Sehingga didasari oleh tiga pandangan ini, dapat kita lihat bagaimana munculnya gerakan mahasiswa 1998. Jelaslah bahwa gerakan mahasiswa di Indonesia dilahirkan oleh meluasnya ketidakpuasaan di kalangan masyarakat luas akibat krisis ekonomi dan ketidakpuasaan atas situasi politik. Artinya ini merupakan adanya kesempatan politik untuk menjadi dasar lahirnya gerakan mahasiswa 1998. Dan krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997 oleh Thailand yang berimbas ke Indonesia,  terpilih kembalinya Soeharto dalam pemilu 1997 adalah faktor sinisme yang kemudian dimobilisasi dalam gerakan massa sehingga ada momen yang tepat untuk membangun gerakan massif. Hal ini senada dengan yang pernah dikatakan oleh Mohammad Hatta dalam Harian Daulat Rakyat, 20 September 1931 .
 “Supaya tercapai suatu masyarakat yang berdasarkan keadilan dan kebenaran, haruslah rakyat insyaf akan haknya dan harga dirinya. Kemudian haruslah ia berhak menentukan nasibnya sendiri perihal bagaimana ia mesti hidup dan bergaul.”

Tentunya, masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa telah memilih bergerak untuk melakukan perubahan untuk Indonesia yang demokratis.[7]
Bulan April 1998, berita media massa telah dipenuhi oleh serangkain gerakan mahasiswa. Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas dengan almamaternya bergabung menjadi satu dalam rangka meneriakan keprihatinan-keprihatinan akibat krisis ekonomi.[8] kemudian, Mei 1988 gerakan mahasiswa makin marak dengan slogan-slogan reformasi artinya ada perubahan gerakan dari gerakan sosial ke gerakan politik. Gerakan ini tidak saja dimotori oleh mahasiswa, melainkan adanya keterlibatan guru besar, pekerja LSM, Intelektual, teknokrat samapi para pekerja,dokter, suster, dan buruh sehingga banyak ilmuan yang mengatakan bahwa ini adalah gerakan kelas menengah. Efek dari gerakan ini adalah dengan tertembaknya empat orang mahasiswa Trisakti.
Gerakan ini sangat sistematis, dan progresif karena melampaui isu-isu agama dan ras melainkan dalam satu misi yakni perubahan sistem politik dan ekonomi secara substansial. Namun tewasnya empat orang mahasiswa Trisakti telah membakar semangat untuk terus berjuang tidak saja bagi kalangan mahasiswa tetapi seluruh lapisan masyarakat, dari kaum cendikiawan sampai masyarakat pinggiran. gerakan yang kemudian menjadi bola salju dan mempengaruhi semua komponen masayarakat ini.[9] sayangnya, gerakan ini kemudian erubah menjadi huru-hara dan kriminal yang merusak citra reformasi dan kerugian material akibat pembakaran gedung-gedung, kendaraan milik negara dan sipil, penjarahan.
Hal ini dikarenakan oleh diambil alihnya gerakan kelas menengah dan dikendalikanya gerakan oleh massa yang bringas, para perusuh. Oleh karenanya, gerakan ini meninggalkan luka kolektif bagi kehidupan bangsa yang plural dan memperburuk krisis yang ada. Melihat keadaan negara, terutama ibu kota, tepat pada jam 09.00 WIB tanggal 21 Mei 1998 di Istana Negara Soeharto menyampaikan pidato pengunduran diri dan memandatkan kepemimpinan presiden ketangan wakil presidennya, B.J. Habibie.
Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.”

“Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998.”

Inilah yang menjadi batas atas rezim Orde Baru dan dimulainya rezim reformasi.[10] Pidato ini menjadi berita utama diseluruh media massa baik nasional dan internasional. Pidato ini mengagetkan para pengamat politik bahwa tidak adanya kalangan pengamat politik yang paling optimis sekalipun membayangkan Soeharto akan turun dari kekuasaannya secepat itu. Kecewaan ini ikut dituturkan oleh Indra J Piliang,
“… kebanyakan anak-anak gerakan itu sudah itu, dah berhenti, karena mereka melihat apa, kalau kelompok saya melihat ya, kelompok kami kan termasuk yang kecewa terhadap begitu cepatnya Soeharto jatuh. Kelompok kami termasuk terideologisasi karena kita menganggap, waktu itu kita mempersiapkan diri 2 tahun untuk melawan Soeharto, eh belum dua bulan sudah jatuh…[11]

Meskipun demikian, Soeharto adalah salah satu presiden Indonesia yang selama 32 tahun telah ikut membangun negaranya sendiri, tanpa menampik kecurangan yang telah dihasilkannya. Runtuhnya rezim kepemimpinan Soeharto tidak serta-merta meruntuhkan nilai-nilai kepemimpinannya yang masih banyak dirindukan oleh kalangan yang terlahir dan sukses di zaman Orde Baru. Mundurnya Soeharto telah memperlihatkan bahwa rezim yang dikira rezim yang kuat ternyata adalah rezim cair yang tidak sulit untuk diruntuhkan.


[1]Hal ini didasari data IPS  yang diperoleh melalui buku Fadlizon.2009. Politik Huru Hara Mei 1998. Institute For Policy Studies. Jakarta. hlm. 3-5

[2]Denny. J.A. 2006. Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia. LKIS. Yogyakarta. hlm. 17

[3]Berdasarkan model yang dikembangkan oleh Kindleerger yang dipinjam melalui Minsky untuk menjelaskan aneka krisis. dan ini menjadi pisau analisis dalam memahami krisis yang terjadi di Asia khususnya Indonesia. ibid. hlm 19

[4]lihat Bab I, sub bab Latar Belakang hlm. 4-6

[5]Ali Winoto Suandoro, “ Dari Krisis Nilai Tukar ke Krisis Ekonomi” dalam selo Soemardjan (ed). 1999. Kisah Perjuangan Reformasi. Sinar Harapan. Jakarta. hlm 77-132. uraian saat berakirnya kepemimpinan Soeharto secara kronologis, dapat dilihat dalam S. Soenansari Ecip.1998.  Kronologis Penggulingan Soeharto : Reportase Jurnalistik 72 Jam yang Menengangkan. Mizan. Bandung

[6]Sidney Tarrow. 1998. Power in Movement. Cambrige University press. hlm. 71 dalam sub Bab Political opportunisties and constrains.  dan hlm 123 dalam Bab Mobilizing Structure and Contentius Politics. Dalam buku ini dikaji juga secara lebih luas tentang teori Political Opportunity Structure dan teori gerakan sosial politik lainnya.

[7]Denni J.A. 2006. Visi Indonesia Baru setelah reformasi 1998. LKIS. Yogyakarta. hlm. 75

[8]Denni. J.A. Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia. op.cit.,  hlm 21

[9]Fadli Zon Op.cit.,  hlm. 56-59

[10]Dr. Baskara T. Wardaya SJ. et,all. 2007. Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto. Galangpress. Yogyakarta. hlm. 90

[11]Wawancara dengan Indra J. Piliang. DPP Golkar, mantan Aktivis mahasiswa (KBUI) 1998. pada tanggal 20 September 2012 jam 10.30 di  kantor The Indonesian Institute, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar